Jadi jomblo itu banyak cobaan dan
godaannya. Biasanya kalau malam minggu mereka lebih memilih untuk tiduran
dirumah, daripada keluar dan ngeliatin orang-orang yang lalu-lalang sama
pasangannya, masih mending kalau dirumah ada orang tua, adik atau pun binatang
piaraan yang bisa diajak ngomong, nah gimana
kalau di-kost, kamu cuma bisa
ngeliat teman-temen satu kost kamu diapelin dan diajak jalan sama pacar-pacar
mereka, terus mereka bilang “nanti tolong bukain pintu ya! hati-hati dirumah, dadaaaah!”
sambil tersenyum sadis. Abis itu kamu
pergi dan ngunci diri dikamar, kemudian ngaca sambil teriak “huaaaaa!! kenapa
aku harus jadi jomblo?!!!”
Berlanjut dari kegalauan karna
menyandang status jomblo, kamu berusaha mati-matian untuk sesegera mungkin
mendapatkan seorang pacar. Entah itu beraksi di jejaring sosial dan dengan giat
kepo sana sini atau minta temen kamu
buat ngenalin kamu ke temen pacarnya. Biasanya temen kamu bakalan ngedukung,
karna gak tega ngeliat kamu yang suka manyun dan merengek kalau harus jadi obat
nyamuk waktu ikut jalan bareng dia dan si doi. Itu kalau temen kamu gak jomblo,
lha, kalau temen kamu jomblo juga?? Ini yang ngenes-nes-nes!.
Nah, aku udah ngalamin semuanya.
Mulai dari kenalan di facebook, minta
comblangin sama temen, sampai minta saran sama temen yang jomblo juga. Bahkan
yang tingkat kejombloan nya lebih akut. Plakkk!!
Pernah ada cowok yang waktu itu
ngajak aku kenalan. Namanya Guna, lengkapnya Gunawan. Yang waktu itu sempat ku
intip beranda nya, dan ternyata oleh temen-temennya dia dipanggil Gugun. Oalah!
Awalnya,
si Guna alias gugun ini terlihat kalem dan gak agresif. Sekedar bertanya nama,
alamat dan basa-basi bahas soal aktivitas di kampus. Tiba-tiba…
“haii, ini rena kan?” terdengar suara
di seberang sana memanggilku.
“iya, ini siapa ya?” jawabku
menanggapi suara dari pemilik nomor asing itu.
“ini aku gugun, eh guna!” Gubrak!
Ketahuan ni orang suka gonta-ganti nama.
“lho,kamu dapet nomor handphone aku dari
siapa?”
“ya dari facebook lah!” aku sudah lupa kalau ternyata dulu aku sempat
nyantumin nomor handphone di akunku.
“oh, gitu ya!”
“iya”
Sejak
hari itu guna ataupun gugun semakin sering nelpon dan sms, entah itu ngajakin
ngobrol atau sekedar nanyain “lagi ngapain ren?” atau..”udah makan belum?” hehehe.
Dua
minggu berturut setelah pe-de-ka-te antara aku dan gugun via sms yang kelihatan
semakin lancar, akhirnya dia mengajak aku untuk ketemuan. Gak muluk-muluk. Gak
perlu nentuin tempat yang pas. Aku nyuruh dia nyamperin ke alamat kost ku.
Alhasil.. kita jadian. Mudah banget kan? Iya nggak lah, itu singkat ceritanya
aja.
Kencan
pertama kami bener-bener gak akan kulupakan. Malam itu malam minggu. ya, malam
minggu. Aku dan gugun jalan-jalan keliling kota. Jalanan sesak oleh muda-mudi.
Dan malam itu aku menjadi salah satu bagian dari mereka. hehehe
Setelah
puas keliling kota, kami berhenti untuk makan malam. Jangan mikir jauh-jauh.
Kita gak makan di restaurant. Walaupun cuma makan di emperan kan tetap aja
namanya makan malam.
Dan
kamu tahu? Tiba saat waktunya itung-itungan sama pedagang, si Guna Gugun
Gunawan cuma ngebayar makanan dia aja! Busyet dah! Tadinya kupikir dia bakal
rela merogoh uang sakunya demi pacar tercintanya ini. Guguuuun! Kita PUTUS!
Hubunganku
dengan Gugun hanya berjalan 3 hari. Dan aku menyadari kita memang gak cocok.
Bukan cuma karna Gugun itu pelit bin medit, tapi juga karna..
“yank..lagi
ngapain? Udah makan belom?” dilengkapi dengan emoticon titik dua-bintang! Kayak begini ni :* tau kan? Hoek!
selalu pesan itu yang kuterima. Tiga kali sehari! Bayangkan, udah kayak minum
obat aja!
***
“HUAHAHAAAAA
gak banget, ren!” Yola terbahak denger
cerita cintaku yang tragis.
“udah dong jangan
ketawa! Seneng banget liat orang kesel!”
“gantian dong! Kapan lagi coba bisa ngeliat kamu kayak
begini!” Yola cekikikan.
Yola temen SMA ku. Bukan, bukan si
jomblo akut yang ku maksud. Dia temen yang cukup berjasa menjadi mak comblang
buatku. Meskipun gak pernah ada satupun yang berhasil. Meskipun Yola udah kayak
sales mempromosikan aku di depan mereka. Katanya sih, Mereka bilang aku jutek.
Ya,
aku akui itu. mereka benar. Aku memang jutek. Dan disitulah letak
permasalahannya. Adakah orang yang menyukai sikap jutek? Pasti gak ada. Tapi
adakah orang yang menyukai kebohongan? Jawabannya juga gak ada. Nah, kalo aku
pura-pura bersikap manis dan nutupin tu sifat jutek, sama aja bo’ong kan?
***
“kriing!!kriiing!!kriiing!”
Handphone ku berbunyi. Kok kayak bunyi sepeda ya? Ganti dech!
“tuliliit..!tuliliit..!tuliiiliiit!” hehehe. Aku mengusap-usap mata. Melihat
nama si pemanggil yang membangunkan ku di pagi buta. Emak!
“assalamua’laikum” aku mengangkat
telpon.
“wa’alaikumsalam” suara diseberang
sana menyahut. Suara emak.”belum bangun, ren? Udah jam berapa ini!” huft! Pasti
ketahuan dari suaraku yang serak-serak basah tapi gak enak didenger.
“iya emak ku sayaaang, ini juga rena
udah mau bangun!”
“semalam kamu tidur dimana?”
“ya tidur dirumah dong, emak”
“gak sama temen kamu yang itu ren?”
“temen? Temen yang mana emak?”
“temen yang biasa tidur bareng sama
kamu!”
“oh, juju..gak kok. emang kenapa,
tumben-tumben nya emak nanyain juju?” terbayang olehku wajah si jomblo akut.
Membuat aku setengah ingin tertawa.
“gak,
emak kirain dia nginap dikamar mu lagi!” emak menarik nafasnya. Terdengar
olehku.”ren, emak saranin jangan terlalu dekat kalau berteman sama juju”
“lho,
emang kenapa emak??”aku terlonjak. Apa yang salah dari juju? Juju baik dan
bukan kleptomania! Juju juga gak punya penyakit menular seperti TBC, rabies,
atau yang mematikan seperti HIV!
“Ren,
Emak takut kalau kamu keseringan berteman sama cewek nanti kamu berubah selera,
jadi gak suka sama lawan jenis lagi!. Jaman sekarang udah banyak yang kayak
begitu!”
What?!!
Emak ngomong apa barusan! Apa kupingku salah dengar??!
“Astagfirullah.
istighfar emak! Rena sama juju masih normal! emak kan tahu, dari dulu rena
punya banyak temen perempuan!” nafas ku tersendat! Aku masih tidak percaya
dengan apa yang barusan aku dengar.
“Ren, Justru karna emak tahu kamu
sukanya temenan dengan sesama perempuan, Emak takut kamu salah jalan!” kali ini
nada bicara emak sedikit naik.
“iya,
rena tau kok. Emak gak usah khawatir
deh! apalagi sampai berfikiran kayak gitu..” belum selesai aku berbicara emak
memotong,
“Ren,
emak cuma khawatir sama kamu. ehm.. emak perhatikan juga sampai sekarang kamu
nggak punya gandengan. Masa sih, anak emak nggak ada yang naksir!” iyuuwh,
gandengan, truk kalee!
“iya,
rena ngerti. Tapi emak, Rena itu kan masih kuliah. Rena mau fokus dulu. Rena
pengen habis ini rena bisa kerja, baru mikirin nyari pendamping hidup!”
“iya
tau, tapi ingat kamu itu perempuan! Entar kalau kelamaan bisa kadaluwarsa lho!
Ingat, umur kamu sekarang udah 21 tahun.” jleg!
what??
Kadaluawarsa? Istilah apa lagi ini! Kayak makanan kaleng yang udah sampai masa expire date-nya, yang udah gak bisa
dimakan trus bisa bikin keracunan! Huuaaaaaaaaaa!
“iya,iya,
tapi..” belum sempat aku menjawab emak lebih dulu mengakhiri pembicaraan.
“udah
dulu ya Ren, emak mau beres-beres di belakang! Entar keburu siang! Kamu
baik-baik ya disana! Assalamua’laikum…”
“wa’alaikumsalam…”
Telpon
terputus. Aku tersandar. Rasanya
nyeseeek banget! Aaaaarrrrrggghhh!!
***
Pagi
itu aku kuliah seperti biasa. Tetapi seperti ada yang kurang. Semangatku. Aku
lupa meninggalkannya dimana. Rasanya.. lebih lebih ketimbang ketinggalan
handphone dirumah!
“woy,
ren! sini dong duduk deket kita!” juju memanggilku dari arah sudut kiri
belakang. Ada ais, nanda dan minah juga disana. Mereka sedang ngerumpi. Biasa
lah, rutinitas!.
“kamu kenapa, ren? Kisut amat!”
Tanya ais, sambil menaik-turunkan alis shinchan miliknya. Pernah liat alis
shincan kan? Yang tebal dan hitam. Nah, alis nya si ais, kayak begitu, tapi gak
asli, udah ditambah pake pencil alis, dan bentuknya rada gak jelas gitu deh,
yang kiri sama yang kanan gak sama rata. Hahahaa stop! Sepertinya soal ini gak
perlu dibahas lebih lanjut.
Balik lagi ke pertanyaan ais tadi, kenapa
wajah saya terlihat kusut bin semrawut? Jawabannya adaalaah…eng ing engg..!
Aku mulai menceritakan kronologinya.
Juju menyimak. Diikuti Ais, Nanda dan Minah. Tetapi diluar dugaan, tadinya aku
berpikir mereka akan turut berduka cita. Malah sebaliknya, mereka tertawa
terpingkal-pingkal!
“stop it! Stoop! Kalian tega ya! gak
liat, ni muka lagi sedih!” kataku sedikit mendramatisir.
“udah, udah.. kayak masalah lu
serius amat! nggak usah dipikirin, itu mah!” tukas nanda. “ada berita penting
yang mesti lu dengar!”
“biar, biar aku aja!” serobot minah
gak sabaran.
“ren, tau gak, si wiwit disuruh
angkat kaki dari rumah sama bokapnya!”
“lho, serius min, kok bisa?” tanyaku
setengah gak percaya.
“dua rius, beneran. Dia ketahuan
udah tekdung 2 bulan”
“jadi, beberapa minggu ini dia sakit
karena…”
“yup,
bener! nggak nyangka kan lu!”
Aku
tercenung. Terbayang olehku wajah polos wiwit. Tidak pernah disangka nasibnya
akan seperti itu. Setahu kami, wiwit anak baik-baik dan punya prestasi yang
lumayan bagus. Ia tidak pernah terlibat pergaulan bebas, seperti sekarang yang
lagi marak terjadi. Tapi, Allah berkehendak lain. ia salah langkah.
“tuh, Ren, Lu nggak usah sedih.
Allah masih sayang sama kita. Dia ngebiarin kita jadi jomblo, biar kita
terhindar dari perbuatan maksiat, dan sekarang kita dikasih liat, apa yang udah
terjadi sama si wiwit, biar bisa kita jadiin pelajaran buat diri kita” kata
juju sambil menepuk bahuku. Aku tersenyum. Dalam hati, aku mengucap syukur.
***
Ngomongin tentang mereka,
temen-temen aku yang juga jomblo. Sampai sekarang belum ada alasan yang tepat
kenapa aku lebih senang bisa ngumpul sama orang-orang ini. Bisa jadi karena
alasan senasib dan sepenanggungan, bisa curhat tentang hal yang sama,
dan..sama-sama meratapi nasib sebagai jomblo!. Tapi, tapi, tapi.. juga karna
orang-orang inilah aku merasa ada yang mengisi hari-hariku, dan sejenak aku
bisa ngelupain statusku sebagai jomblo akut. ya, Tuhan mungkin emang nggak
ngasih pacar yang baik untukku, tapi Dia menghadirkan mereka, yang bisa membuat
aku merasa lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar